FADHILAH FARHAN NURROCHIM
β’
π
10 Feb 2026 β’ 22:40:00
Dedikasi di Tengah Rasa Sakit: Dari Riuh Sekolah Hingga Manisnya Nira Pak Tasikin (4 Februari 2026)
Pagi hari dibuka dengan tantangan fisik yang cukup berat. Meski kondisi tubuh masih kurang stabil setelah diterjang badai kemarin, saya tetap memaksakan diri untuk menjalankan peran sebagai fotografer. Tujuan pertama adalah sekolah dasar setempat untuk menangkap momen-momen autentik para siswa. Fokus saya kali ini adalah mengambil foto dari jarak dekat untuk merekam reaksi spontan dan antusiasme mereka saat belajar. Di sela pengambilan gambar, saya menyempatkan diri mengobrol dengan staf dan para guru, termasuk Pak Yanto, yang memberikan perspektif hangat mengenai dinamika pendidikan di desa ini.Melihat kondisi saya yang tampak lemas, Pak Yanto dengan penuh kebaikan mengantarkan saya berkunjung ke kediaman Pak Tasikin, salah satu produsen gula aren lokal. Di sana, kami banyak bertukar cerita mengenai proses pembuatan gula aren tradisional yang menjadi tumpuan ekonomi warga. Saya bahkan berkesempatan mencicipi wedang nira murni yang baru saja disadap. Luar biasanya, manisnya nira murni tersebut memberikan efek instan yang membuat tubuh terasa sedikit lebih bertenaga dan membangkitkan semangat, meskipun rasa sakit di badan belum sepenuhnya hilang.Siang harinya, agenda berlanjut dengan kunjungan Bapak Sarno selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) luring terakhir. Pertemuan ini diisi dengan berbagai wejangan penting mengenai penyelesaian program kerja dan pesan-pesan penutup untuk masa KKN kami. Namun, segera setelah agenda Monev selesai, kondisi fisik saya benar-benar mencapai titik nadir. Pertahanan tubuh saya runtuh, dan saya mengalami drop yang cukup parah hingga sulit untuk melanjutkan aktivitas mandiri.Melihat kondisi tersebut, Hanif dan Luthfi dengan sigap mengantarkan saya untuk berobat guna mendapatkan penanganan medis yang diperlukan. Sisa hari pun terpaksa saya habiskan dengan istirahat total di posko. Meski merasa sedikit menyesal karena tidak bisa mengikuti kegiatan tim hingga malam, saya sadar bahwa memulihkan kesehatan adalah prioritas utama agar bisa kembali mengabdi di hari-hari terakhir KKN. Kehangatan rekan tim dan warga yang saya temui hari ini menjadi pengingat bahwa dalam pengabdian, dukungan sesama adalah energi yang paling nyata.
Baca selengkapnya β