Menyelami Kearifan Lokal: Dialog Tanpa Sekat di Sudut Warung Desa (31 Januari)
Memasuki penghujung bulan Januari, agenda kami tidak diisi dengan program kerja formal yang padat. Hari ini benar-benar menjadi waktu yang senggang, namun saya justru memanfaatkannya untuk melakukan pendekatan yang lebih personal kepada masyarakat. Saya memilih untuk berkeliling desa sendirian, mampir dari satu warung ke warung lainnya untuk sekadar duduk dan membuka obrolan dengan warga yang sedang berkumpul. Tanpa atribut proker yang kaku, interaksi justru terasa lebih mengalir dan tulus.
Momen-momen santai di warung ini ternyata menjadi ruang tukar pikiran yang sangat kaya. Banyak informasi berharga dan pengalaman hidup seputar sejarah serta dinamika desa yang saya dapatkan langsung dari penuturan warga. Mendengar cerita mereka tentang bagaimana desa ini berkembang dan tantangan yang dihadapi sehari-hari memberikan perspektif yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar data formal. Pengalaman ini memperkaya pemahaman saya bahwa esensi KKN adalah tentang bagaimana kita mampu mendengarkan dan menghargai nilai-nilai yang sudah ada di masyarakat.
Sembari berkeliling, semangat kreatif saya justru muncul secara spontan. Di tengah perjalanan mandiri ini, saya mulai mendapatkan ide-ide segar untuk sebuah konsep video baru yang lebih "bercerita" tentang esensi desa. Saya pun segera mengambil beberapa footage tambahan secara mandiri untuk mendukung ide tersebut. Sudut-sudut desa yang sebelumnya terasa biasa, kini tampak memiliki makna lebih setelah saya mendengar cerita di baliknya dari para warga.
Hari yang kosong tanpa jadwal resmi ini justru terasa sangat berisi secara batin. Kepercayaan warga yang mau berbagi cerita dan pengalaman hidup mereka menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk memberikan hasil terbaik di sisa waktu KKN. Saya pulang ke posko dengan ide-ide video yang sudah matang di kepala, siap untuk dieksekusi menjadi sebuah karya yang mampu merepresentasikan kehangatan Desa Badak dari sudut pandang yang lebih humanis.