Pernahkah Anda menyadari betapa cepatnya waktu berlalu ketika kita sedang menenun kenangan bermakna bersama masyarakat? Rasanya baru kemarin kami datang membawa setumpuk rencana kerja dan kecanggungan untuk beradaptasi. Namun hari ini, tanggal 9 Agustus, langkah kami di Desa Sitiadi mulai menginjak fase transisi. Fokus kami tidak lagi pada eksekusi program kerja yang menguras tenaga, melainkan pada apresiasi kebersamaan dan persiapan untuk berpamitan.


Pagi ini, ritme pengabdian kami terasa lebih melambat dan menenangkan. Kami melebur dalam kegiatan jalan sehat berkeliling Desa Sitiadi. Agenda ini mungkin terdengar santai, namun maknanya terasa sangat emosional dan personal bagi tim kami. Setiap ayunan langkah melewati sudut-sudut desa, mulai dari rute gang-gang kecil, melewati pos ronda yang kami singgahi, hingga deretan UMKM yang kami dampingi, terasa seperti napak tilas. Jalan sehat ini seolah memutar kembali rekam jejak atas semua keringat, diskusi, dan tawa yang telah kami bagikan di sini. Ini menjadi momen perayaan kecil kami; merayakan persaudaraan yang telah terjalin hangat dengan warga, sekaligus merayakan kesehatan raga yang memampukan kami mengabdi hingga mendekati garis akhir.


Setelah melintasi garis finis jalan sehat, realitas bahwa masa pengabdian ini akan segera usai perlahan mulai menyapa. Setibanya di posko, fokus kami beralih pada agenda yang paling sulit dari seluruh rangkaian KKN: mempersiapkan kepulangan. Sisa hari ini didominasi oleh kegiatan merapikan barang bawaan dan menginventarisasi kembali perlengkapan posko.


Namun, kami menyadari bahwa berkemas bukan sekadar urusan melipat pakaian atau memasukkan barang ke dalam koper. Ini adalah tentang mengemas ribuan memori, pengalaman berharga, dan nilai-nilai kearifan lokal yang tidak akan pernah kami temukan di dalam modul perkuliahan.


Hari yang syahdu ini memberikan kami sebuah refleksi yang mendalam: setiap perjumpaan pasti akan menemui titik perpisahan. Meski raga kami harus segera kembali ke rutinitas kampus dan menyusun laporan akhir, kami percaya bahwa jejak kolaborasi, inovasi lingkungan, dan jalinan kekeluargaan yang telah tertanam di Desa Sitiadi akan terus hidup. Langkah santai di pagi hari tadi adalah simbol salam pamit kami yang paling hangat untuk sebuah desa yang telah mengajarkan kami arti sesungguhnya dari kata pengabdian.