Pernahkah Anda menyadari bahwa bagian terberat dari sebuah perjalanan bukanlah saat mendaki, melainkan saat kita harus mengepak barang dan bersiap untuk pulang? Hari ini, realitas bahwa masa pengabdian kami di Desa Sitiadi telah benar-benar tiba di garis akhir terasa begitu nyata dan menggetarkan hati.


Sejak pagi, posko yang biasanya riuh oleh perdebatan program kerja dan gelak tawa kini diselimuti oleh kesibukan yang berbeda. Kami bergotong royong membersihkan dan merapikan setiap sudut ruangan untuk mempersiapkan momen penarikan kami esok hari. Menyapu lantai, menata kembali perabotan, dan mengepak barang-barang pribadi rasanya seperti sedang melipat satu per satu kenangan. Posko ini bukan sekadar bangunan persinggahan; ia telah menjadi saksi bisu atas segala kelelahan, diskusi panjang, dan persaudaraan yang kami bangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di desa ini.


Namun, puncak emosi sesungguhnya baru benar-benar tumpah saat malam tiba. Kami menyelenggarakan malam perpisahan, sebuah panggung sederhana untuk menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Ruangan terasa begitu hangat dengan kehadiran para tokoh penggerak Desa Sitiadi: jajaran perangkat desa, rekan-rekan Karang Taruna, serta perwakilan ibu-ibu PKK dan para pahlawan ekonomi dari UMKM lokal.


Duduk melingkar bersama mereka malam ini memutar kembali semua rekam jejak kolaborasi kami. Bersama perangkat desa, kami belajar tentang kesabaran melayani masyarakat; bersama Karang Taruna, kami merayakan gelora masa muda di lapangan; dan bersama ibu-ibu PKK serta UMKM, kami menemukan semangat pantang menyerah untuk memajukan kesejahteraan. Saling bertukar cerita, tawa, dan salam pamit di penghujung malam menyadarkan kami bahwa kehadiran kami di sini nyatanya telah diterima lebih dari sekadar mahasiswa tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar.


Hari ini ditutup dengan sebuah refleksi penutup yang amat syahdu: pengabdian yang tulus tidak akan pernah benar-benar menemui titik akhir. Esok hari, raga kami memang harus ditarik kembali menuju rutinitas akademik kampus. Namun, segala pelajaran hidup, nilai kearifan lokal, dan ikatan kekeluargaan yang telah tertanam, akan selalu kami bawa pulang. Terima kasih, Sitiadi, untuk cerita yang akan selalu kekal dalam ingatan.