Hari ini posko Desa Badak menjadi lebih ramai dari biasanya. Kami mendapat kejutan menyenangkan dengan kedatangan teman-teman seperjuangan dari tim KKN Desa Danasari. Setelah sesi perkenalan yang hangat di posko, kami memutuskan untuk menjalin keakraban dengan cara yang berbeda: berpetualang ke alam. Tujuan kami adalah Curug Jajar. Perjalanan menuju ke sana memang menantang dengan akses yang cukup sulit dan terbatas, namun semua lelah terbayar lunas begitu sampai. Curug ini benar-benar definisi hidden gem; airnya jernih dan suasananya sangat asri karena belum banyak tersentuh tangan manusia. Di sana, kami tidak hanya menikmati keindahan alam, tapi juga mendapatkan teman-teman baru yang membuat ikatan antar-desa kian erat.


Sepulangnya dari curug, semangat kami untuk menjelajah desa belum surut. Kami berinisiatif melanjutkan agenda silaturahmi formal dengan mencoba sowan ke kediaman Bapak Kepala Dusun (Kadus) Jurangjero. Namun, keberuntungan belum berpihak pada kami sore itu karena beliau sedang tidak berada di rumah. Sedikit kecewa namun tetap semangat, kami kembali ke posko sambil memutar otak agar waktu luang di hari libur ini tetap produktif dan tidak terbuang sia-sia.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, kami mendapat kabar bahwa sedang ada panen tomat di greenhouse milik BUMDes. Tanpa pikir panjang, saya mengajak Hanif, Luthfi, Prisil, Shasya, dan Fina untuk meluncur ke lokasi. Rasa lelah pasca trekking ke curug seolah hilang digantikan antusiasme memetik tomat segar. Kami ikut membantu proses panen, belajar memilah buah, sambil bersenda gurau. Kegiatan di greenhouse ini menjadi penutup aktivitas fisik yang manis dan produktif bagi kami.


Namun, ketika sore berganti malam, hujan mulai turun membasahi Desa Badak. Mungkin karena aktivitas fisik yang cukup padat seharian, kondisi tubuh saya menurun dan penyakit lama saya kembali kambuh. Dengan berat hati, saya harus absen dari kegiatan kumpul malam di posko putra. Saya memilih untuk mendengarkan tubuh saya dan mengambil waktu istirahat total untuk pemulihan diri. Meskipun hari ditutup dengan berbaring sakit, kenangan indah di Curug Jajar dan keseruan panen tomat membuat hari ini tetap terasa sangat berharga.