Kepulangan ke Rumah: Jeda Sejenak Demi Kesehatan Mental dan Fisik (9 Februari 2026)
Pagi buta, perjalanan saya di Desa Badak harus terjeda sejenak. Orang tua saya datang menjemput pagi-pagi sekali untuk membawa saya pulang ke Purbalingga guna menjalani pengobatan yang lebih intensif. Ada perasaan campur aduk saat harus meninggalkan desa di hari yang sama dengan acara perpisahan resmi di balai desa. Meski raga tidak bisa hadir di sana untuk bersalaman terakhir dengan perangkat desa dan warga secara formal, saya tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik agar kondisi saya tidak semakin memburuk.
Sepanjang perjalanan pulang, saya menumpahkan segala cerita yang selama ini tersimpan—mulai dari keluh kesah, suka duka, hingga dinamika selama masa KKN. Berbicara jujur dan terbuka kepada orang tua ternyata menjadi katarsis yang luar biasa. Beban pikiran yang selama ini menumpuk perlahan meluruh; perasaan menjadi jauh lebih plong setelah berbagi beban dengan orang-orang terdekat yang paling memahami saya.
Sesampainya di rumah, saya disambut oleh aroma familiar yang seketika memberikan rasa aman. Tidak membuang waktu, saya langsung menjalankan rangkaian agenda pemulihan. Saya berkonsultasi dengan psikolog untuk menata kembali kesehatan mental pasca-tekanan jadwal yang padat. Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk cukur rambut. Perubahan penampilan yang lebih rapi ternyata memberikan efek psikologis yang signifikan; saya merasa lebih segar, tampilan lebih fresh, dan ada semangat baru yang muncul untuk menghadapi hari esok.
Hari yang emosional sekaligus melegakan ini ditutup dengan istirahat yang berkualitas di tempat tidur sendiri. Dengan pikiran yang lebih enteng dan kondisi mental yang lebih tertata, saya merasa telah melakukan investasi terbaik untuk diri sendiri. Jeda ini bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan langkah mundur sejenak untuk melompat lebih jauh saat kembali menuntaskan kewajiban nanti.