Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 09.00 WIB dengan agenda prapelaksanaan Focus Group Discussion (FGD), yang difokuskan pada pematangan materi dan persiapan teknis lainnya. Pada saat yang sama, prapelaksanaan program kerja bidang pendidikan juga dilakukan melalui persiapan dan pengumpulan alat serta bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan terarium. Memasuki sore hari, persiapan akhir untuk pelaksanaan FGD mulai dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB, hingga akhirnya agenda utama FGD resmi dimulai dan berjalan tertib pada pukul 20.00 WIB.

Berdasarkan hasil diskusi dalam FGD, pada aspek pemetaan wilayah ditemukan adanya kekeliruan pada peta desa yang disebabkan oleh ketidakakuratan penentuan batas wilayah desa. Sementara itu, di bidang karakteristik kebencanaan, teridentifikasi bahwa kerusakan akibat angin kencang mayoritas menimpa bagian atap atau genteng rumah warga akibat kondisi strukturnya yang memang sudah kurang kokoh. Bencana angin kencang ini diestimasikan terjadi sekitar 15 menit setelah munculnya tanda-tanda alam, dengan pola kejadian yang bisa berlangsung sebelum, bersamaan dengan, maupun setelah turun hujan. Selain itu, fenomena angin kencang dengan intensitas sedang juga berpotensi terjadi pada musim kemarau, dengan rata-rata radius dampak berkisar antara 500 hingga 700 meter dari kawasan permukiman warga.

Terkait aspek kerentanan, data By Name By Address (BNBA) dilaporkan telah berhasil dihimpun dan saat ini sedang berada dalam tahap perapian serta validasi lebih lanjut. Di sisi lain, pada aspek kapasitas desa, kebijakan mengenai penanggulangan bencana tercatat telah resmi diterbitkan sejak tahun 2020. Meskipun legalitas Surat Keputusan (SK) Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) masih perlu ditelusuri dan dipastikan kembali sebelum pelaksanaan FGD kedua, seluruh organisasi desa dipastikan telah terbentuk secara lengkap. Desa juga telah menjalin kemitraan dengan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan BPBD, serta mengalokasikan anggaran masing-masing sebesar Rp4.000.000,00 untuk dana darurat dan program pelatihan yang sebelumnya sudah pernah diselenggarakan. Sebagai bentuk kesiapsiagaan operasional, partisipasi aktif masyarakat diwujudkan melalui aksi kerja bakti dan penggunaan kentongan sebagai sistem peringatan dini, yang didukung oleh ketersediaan fasilitas satu unit mobil siaga desa.