Pagi ke-15 dibuka dengan deru kesibukan yang luar biasa sejak pukul delapan. Dua kawan kami berangkat menuju dapur UMKM Basreng Yankizz, mengabadikan setiap proses pembuatannya ke dalam lensa kamera untuk merangkai video profil desa. Sementara itu, sisa tim bergerak layaknya sebuah mesin yang solid guna mempersiapkan perhelatan besar hari ini yaitu Sosialisasi dan Pembuatan Aquaponik dari galon bekas. Di Balai Desa, kesibukan terbagi dengan rapi. Ada yang bergegas memastikan konsumsi tersedia, menjemput sisa peralatan yang kurang, hingga menata kursi, proyektor, dan meja agar ruang pertemuan terasa hangat bagi para tamu. Kami mengundang tiga perwakilan dari setiap dusun di Menganti, mempertemukan semangat muda dengan kearifan lokal. Acara mengalir dengan tertib, mulai dari pembukaan, sambutan hangat dari Kormades serta Ibu Kades, hingga masuk ke inti kegiatan berupa pematerian dan praktik langsung. Di sana, terjadi ruang diskusi yang luar biasa, sebuah pertukaran ilmu antara teori yang kami bawa dengan pengalaman nyata para warga yang sudah puluhan tahun bergelut dengan pertanian dan perikanan. Kebahagiaan kami memuncak saat praktik berhasil dilakukan, ditutup dengan sesi dokumentasi sebagai bukti bahwa inovasi bisa lahir dari benda sederhana. Usai mengemas kembali peralatan, raga kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pengembaraan menuju Dusun Rawajarit. Misi kami adalah inventarisasi, menggali lebih dalam tentang urat nadi ekonomi warga di sana. Kami singgah di empat tempat produksi yang berbeda, melihat proses pembuatan Sale Pisang, kegurihan Ceriping Pisang, pengasinan Telor Asin, hingga kesibukan usaha Catering. Hari ini kami belajar banyak hal, bahwa Menganti bukan hanya kaya akan sumber daya, tapi juga kaya akan semangat untuk terus belajar dan berdikari.