Setelah maraton pengerjaan video yang menguras energi hingga subuh kemarin, tubuh saya akhirnya memberikan sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan. Tanggal 7 Februari menjadi hari di mana saya harus beristirahat total. Di saat teman-teman satu tim berangkat menuju curug untuk menikmati sisa waktu di Belik, saya terpaksa tetap di posko. Kondisi fisik saya kembali menurun drastis akibat kambuhnya penyakit bawaan yang dipicu oleh kelelahan ekstrem. Menyadari bahwa kesehatan adalah prioritas utama, saya memilih untuk mematuhinya demi pemulihan yang lebih cepat.


Hari itu saya habiskan lebih banyak di dalam kamar, memberikan waktu bagi raga untuk memulihkan diri dari ritme kerja yang terlalu cepat beberapa hari terakhir. Suasana posko yang sepi karena ditinggal teman-teman justru memberikan ketenangan yang saya butuhkan. Meski demikian, berdiam diri sepenuhnya di kamar terkadang terasa menjemukan. Sesekali, saya mencoba bangkit untuk sekadar mencari udara segar di teras atau berpindah ke ruang tamu.


Interaksi sosial saya hari ini pun terbatas namun terasa berkualitas. Saat berada di ruang tamu, saya menyempatkan diri mengobrol ringan dengan orang-orang yang sedang bertamu atau berada di rumah Pak Kades. Obrolan-obrolan pendek ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya agar tidak merasa terlalu terisolasi di dalam kamar. Meskipun hanya percakapan sederhana tentang kabar kesehatan atau suasana desa hari itu, hal tersebut cukup untuk menjaga semangat saya tetap positif di tengah kondisi yang kurang mendukung.


Menghabiskan hari dengan beristirahat total memang memberikan rasa campur aduk, terutama saat mengetahui rekan-rekan lain sedang menjelajahi alam Belik. Namun, saya belajar bahwa dalam sebuah pengabdian, mengenal batasan diri adalah bagian dari profesionalitas. Hari ditutup dengan harapan agar pemulihan ini berjalan lancar, sehingga saya bisa kembali berdiri tegak dan ikut serta dalam momen-momen penutupan KKN yang sudah semakin dekat.