Minggu 18 Januari 2026, setelah beberapa melakukan persiapan hari ini adalah puncaknya. Pelatihan penanaman planter bag kepada kelompok tani wanita.


Kalau boleh jujur sebenarnya proker ini kurang relevan. Tidak cocok diterapkan disini karena mayoritas ibu-ibu disini adalah petani. Mereka sudah sering menanam dan merawat tanaman di sawah yang lebih kompleks. Sehingga buat apa diperlukan planter bag. Planter bag akan sangat cocok dilakukan di kota. Namun, tidak ada salahnya menjalankan proker ini. Bagaimanapun planter bag dan menanam di sawah adalah hal yang (mungkin) berbeda.


Kami memulai proker tersebut pada pukul 09:00. Awalnya hanya ada 5 orang yang datang. Sedangkan targetnya adalah 15 orang. Hal ini membuat puput selaku ketua pelaksana gelisah. Namun, beberapa menit kemudian barulah ramai yang datang. 25 orang, melebihi target.


Saya bertugas untuk bercangkul. Untuk kali ini, saya sudah tidak kaku lagi. Luwes dan fleksibel, terimakasih Adam yang sudah mengajariku mencangkul.


Namun, yang saya kaget adalah para ibu-ibu tidak menunggu saya mengcangkul. Mereka merauk tanah dengan tangan kosong. Sudah biasa katanya. Tentu saya sedikit kaget. Walaupun sebenernya, untuk apa kaget. Memang sewajarnya kan?


Setelah praktek, Puput dan Lathifa memberikan materi bagaimana cara merawat tanaman agar tidak mati. Berbeda dengan saya ketika berinteraksi dengan orang tua yang kaku. Mereka sangat luwes dan bisa berinteraksi dua arah. Cara penyampaian mereka sangat halus dan mudah dipahami. Walaupun, saya sendiri tidak paham pertanian.