Pagi hari di Kutaliman menjadi saksi langkah terakhir pengabdian. Kami berkumpul di Balai Desa untuk memaparkan hasil seluruh program kerja kepada perangkat desa. Setiap capaian disampaikan dengan penuh tanggung jawab, disertai rasa syukur atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan. Di balik data dan laporan, tersimpan cerita tentang proses belajar, tantangan, dan kebersamaan yang terjalin selama pengabdian.


Setelah pemaparan selesai, suasana beralih menjadi lebih sunyi dan penuh perasaan. Di posko, kami mulai merapikan barang-barang, melipat kenangan dalam tas dan koper. Setiap sudut posko seakan menyimpan cerita, tawa yang pernah pecah, lelah yang pernah ditahan, dan harapan yang pernah ditanam bersama. Kutaliman bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua yang telah menerima kami apa adanya.


Rasa haru dan sedih menyelimuti proses persiapan pulang. Perpisahan terasa berat karena kebersamaan yang terbangun telah menjelma menjadi ikatan keluarga. Dalam pelukan, salam, dan doa yang terucap, kami belajar bahwa pulang bukan berarti meninggalkan, melainkan membawa bagian dari desa ini ke dalam hati.