Sejujurnya saya binggung, bagaimana cara saya mengawali pagi. Jam saya dimulai pukul 04:00. Namun, jam segitu teman saya masih pada tertidur ditambah tidak ada sinyal. Niat awal saya adalah saya akan memakai waktu pagi untuk belajar. Namun, saya kesulitan karena tidak ada sinyal. Alhasil seringnya saya tidur lagi dan bangun jam 7.


Pagi tadi, saya memanfaatkan waktu pagi untuk keliling menggunakan motor. Jam berangkat kantor disini terasa hangat, berbeda dengan di Purbalingga yang panas atau Bogor yang sumpek. Inilah salah satu kelebihan tinggal di desa. Di mana udaranya masih enak.


Sayang karena saya terlalu asik menikmati udara hangat, saya jadi terlambat untuk sarapan. Ketika, sudah datang mereka sudah selesai makan.


"Dari mana aja si Gus?" Zahira dengan marah. "Dari Derik ya?" Sambungnya


Benar, saya abis dari Derik bahkan Berta bahkan melewati Susukan, alias kecamatan Mandiraja. Hanya untuk motoran saja.


Untungnya, ini adalah jadwal saya piket. Sehingga saya bisa berkontribusi untuk pagi ini.


Pengajian

Kali ini saya mengikuti pengajian lagi. Di kecamatan khususnya desa ini sangat banyak pengajian. Tidak seperti pengajian di dusun 4 yang mana saya hanya ikut di akhir. Kali ini saya mengikuti dari awal bersama Muslimat NU. 


Saya jadi teringat pandangan Buya Hamka bahwa semangat beragama umat muslim di Indonesia sangat tinggi. Mereka membaca Al Barzanji dengan semangat, padahal usia mereka sudah pada sepuh. Sayangnya semangat beragama hanya berlaku pada Ibadah Mahdoh, atau yang bersifat ritual/ceremonial. Sedangkan untuk pemahaman dan gerakan masih kurang diminat. Menurut saya jika saya semangatnya sama bukan tidak mungkin Indonesia atau Islam bisa maju.