Jeda Sejenak: Menikmati Sisi Lain Kecamatan Belik di Sela Rutinitas KKN
Pagi ini dimulai dengan ritme yang jauh lebih tenang dari biasanya. Setelah semalam mengikuti pengajian hingga larut, kami memulai aktivitas sekitar pukul 10.00 WIB atas seizin Pak Kades yang memahami kondisi fisik kami. Beliau memberikan tawaran menarik: kembali ke greenhouse BUMDes atau sesekali menikmati wisata di wilayah Belik sebagai penyegaran. Pilihan kedua tentu sangat menggoda. Sebelum memulai petualangan kecil ini, saya menyempatkan diri mencuci motor—sekadar membasuh debu-debu perjalanan proker beberapa hari terakhir—agar tunggangan kembali segar saat diajak berkeliling.
Perjalanan santai ini membawa saya bertemu dengan Barada dan rekan-rekan KKN dari Desa Belik. Sambutan hangat mereka di posko membuat suasana terasa seperti di rumah sendiri. Bersama Barada, saya berkesempatan sowan ke rumah Pak Dikin. Pertemuan ini diisi dengan senda gurau dan cerita lepas seputar dinamika KKN serta dunia perkuliahan. Meski percakapannya mengalir tanpa arah yang kaku, kami banyak menyerap ilmu dan kearifan lokal yang terselip di balik setiap candaan Pak Dikin. Diskusi santai seperti inilah yang seringkali memberikan perspektif baru yang tidak ditemukan dalam materi perkuliahan formal.
Sore hari menjadi puncak keseruan saat kami memutuskan untuk benar-benar melepas penat dari proker. Awalnya kami hanya bermain ke area persawahan, yang ternyata justru melahirkan banyak momen kocak, mulai dari aksi kepleset hingga tawa pecah di tengah pematang. Petualangan berlanjut menuju Curug Priuk di Desa Gunungjaya. Medan jalan menuju sana lumayan menantang dan memacu adrenalin. Namun, sesampainya di lokasi, warga setempat menyarankan kami untuk tidak melanjutkan ke curug karena hari sudah mulai sore dan langit nampak mendung, serta jalan ke curug itu sendiri lumayan jauh dan jalurnya cukup ekstrim. Kami paham, dan demi keamanan, kami memutuskan untuk putar balik.
Dalam perjalanan balik, malah kami menemukan spot bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Tanah kosong yang menjadi tempat reboisasi pohon pinus ini menawarkan view langsung ke arah kota Pemalang bagian Utara. Kami pun berfoto ria dan menikmati pemandangan yang sangat indah itu, mengabadikannya dengan lensa kamera kami.
Meski gagal menyentuh air curug, perjalanan pulang tetap terasa menyenangkan karena kami sempat berburu jajanan lokal untuk mengobati rasa lelah. Malam harinya, suasana desa Badak sangat bersahabat; tidak ada hujan yang turun seperti malam-malam sebelumnya. Kami keluar mencari makan malam dengan perasaan ringan dan senang. Hari yang penuh tawa ini ditutup dengan istirahat yang sangat nyaman di tengah dekapan hawa dingin khas Desa Badak, mempersiapkan energi untuk kembali ke tugas pengabdian esok hari.