Piket Pelayanan Perpustakaan di Perpustakaan Wanarata, Beserta Masalah yang Kami Temukan Selama Masa Pelaksanaan Piket Berlangsung
Pada hari Kamis, 23 Juli 2026 pukul 13.00, kami melakukan kegiatan piket pelayanan perpustakaan—atau yang biasa kami sebut sebagai “piket jaga perpustakaan”—di Perpustakaan Wanarata, perpustakaan milik desa tempat kami melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik Literasi, yaitu Desa Karangmangu.
Desa Karangmangu ini memiliki konsep perpustakaan yang unik dan—bisa dibilang—menyenangkan. Bangunan perpustakaannya terletak di tengah-tengah Wanarata Edupark, yakni sebuah area wisata di Desa Karangmangu. Bangunan itu memiliki konsep terbuka, menjadikan perpustakaannya sebagai perpustakaan terbuka; dengan banyaknya bagian-bagian dinding yang tidak dilapisi oleh tembok biasa, melainkan kisi-kisi yang dibalut oleh bahan bening nan lunak. Bagian atas dinding-dindingnya pun dibuat tak bersekat, sehingga angin yang lewat bisa dengan leluasa masuk ke dalam ruangan, dan membuat ruangan perpustakaan itu menjadi sejuk dan segar.
Di sekitar bangunan perpustakaan itu, berdiri kokoh pendopo dan area panggung yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi pelaksanaan acara-acara penting di desa (seperti rapat dan perkumpulan rutin warga, ataupun acara perlombaan). Selain itu, mencuat pula di atas tanah kios-kios yang menjual makanan dan minuman (seperti roti sisir, piza, es teh, dan lainnya), beserta bangku dan meja yang bisa digunakan para pengunjung untuk duduk-duduk sembari memakan camilan atau membaca buku.
Selain itu, terdapat pula beberapa area bermain anak yang bisa digunakan oleh anak-anak yang mendatangi Wanarata Edupark. Area di sekitar perpustakaan, kios makanan, tempat duduk, serta tempat bermain itu juga dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi nan rindang; menjadikan Wanarata Edupark sebuah tempat yang sejuk dan nyaman.
Karena itulah, di saat Brenda, Ribbie, dan Jeje sedang piket pelayanan perpustakaan di pukul 13.00, mereka menemukan ada banyak anak yang datang ke perpustakaan untuk meminjam buku, kemudian membawa buku-buku tersebut keluar dari area perpustakaan untuk mereka baca di bawah rindangnya pohon atau di atas luasnya bangku kayu.
Sayangnya, jumlah anak yang bertandang ke perpustakaan pada hari ini tidak sebanyak sebelumnya. Jikalau kemarin-kemarin sepuluh sampai dua belas anak tampak batang hidungnya, hari ini hanya tujuh pasang mata yang tatapnya menyentuh rak buku Perpustakaan Wanarata.
Ah, apakah minat literasi para anak itu telah tenggelam kembali?
Agaknya kami mesti kembali mengobarkan semangat dan minat ke benak anak-anak itu, agar mereka kembali bersedia mendatangi perpustakaan untuk membaca. Namun, ada satu hal, yang kami pikir, sepertinya merupakan penyebab dari malasnya anak-anak itu untuk datang ke Perpustakaan Wanarata.
Bukan karena mereka tidak gemar membaca; sebab setiap mereka datang ke perpustakaan, adalah biasa melihat tiap-tiap anak membaca tiga sampai tujuh buku. Bukan pula karena kurangnya jumlah buku; sebab sudah ada 1000 buku yang berderet di rak-rak perpustakaan, yang bisa mereka pilih dengan sesuka hati—yang manakah yang paling ingin mereka baca isinya?
Yang menjadi penyebab dari adanya masalah itu, justru sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai kelebihan Wanarata Edupark, yaitu letak perpustakaan yang berada di tengah-tengah area berkumpul dan berwisata. Sebelumnya, hal ini dipandang sebagai nilai baik, sebab anak-anak yang berkunjung ke sana bukan hanya bisa bermain ataupun berwisata, tetapi juga bisa sambil membaca buku.
Namun, setelah diperhatikan lagi, nyatanya hal tersebut membawa dampak yang kurang baik. Sebab suasana di dalam perpustakaan jadi tidak kondusif, tidak ideal untuk dijadikan sebagai tempat membaca—bila ada acara lain yang sedang dilaksanakan di sekitar area tersebut. Bahkan kadang kala, ruangan perpustakaan turut digunakan sebagai tempat rapat warga desa. Hal ini merembet pada masalah baru: enggannya para anak untuk datang ke perpustakaan.
Yah, bagaimana mereka mau rajin datang ke perpustakaan, bila perpustakaannya saja tidak bisa membuat mereka merasa nyaman dan leluasa untuk membaca?
Masalah ini, sebetulnya, sangat mengganggu pikiran kami. Sangat meresahkan batin kami. Tetapi, sayang seribu sayang, kami masih belum dapat menemukan cara untuk memecahkan masalah ini.