Hari ke 10 KKN, surya pagi di ufuk Menganti menyambut kesepuluh kawan seperjuangan. Hari ini, kami membelah diri menjadi lima pasang langkah, menyisir debu-debu jalanan di Dusun Kertasari. Dari RT satu hingga RT lima, kami mengetuk pintu-pintu para ketua RT untuk menitipkan sebuah misi Kotak Aspirasi. Sebuah kotak sederhana yang kami rakit, kami letakkan di sana sebagai saksi bisu. Kami ingin kotak itu menjadi peraduan bagi setiap keluh kesah dan keresahan warga yang barangkali selama ini hanya tersimpan di relung hati. Biarlah warga menuliskan surat-surat kecil untuk kami jemput lima hari lagi. Kelak, butir-butir pikiran itu akan kami rangkum dan kami bawa ke meja pemerintah desa, sebuah ikhtiar agar suara rakyat kecil tak sekadar menguap bersama angin, tapi menemukan jalan keluarnya. Lonceng waktu berdentang menuju siang. Usai menunaikan ibadah Jumat, langkah kami tertambat di Masjid Jami' Al Ma'wa. Di sanalah, di bangku-bangku TPQ dan Madrasah Diniyah, kami mendapati jiwa-jiwa muda sedang menempuh ujian. Kami hadir bukan sebagai penguasa kelas, melainkan sebagai kakak yang menyimak setiap bait doa dan surat pendek yang mereka lantunkan. Dengan saksama, kami menimbang ketepatan makhraj, merapikan alunan tajwid, serta mengingatkan eloknya adab saat membaca Al-Quran. Menyimak mereka mengaji seolah membawa kami kembali ke masa silam, di mana ketulusan dalam belajar adalah harta yang paling berharga. Hari ini, pengembaraan kami ditutup dengan rasa syukur yang mendalam, tentang pentingnya mendengar suara sesama dan menjaga kemurnian iman sejak dini.