Pagi ini dimulai dengan tabuhan energi yang berbeda. Pukul tujuh tepat, kami sudah berbaur bersama ibu-ibu desa untuk bergerak bersama dalam senam pagi yang energik. Gelak tawa dan gerak yang serasi menjadi pembuka hari yang penuh kegembiraan. Langkah kami kemudian bergeser menuju lahan milik desa. Di sana, hamparan kangkung yang subur telah siap dipetik. Bersama perangkat desa dan perwakilan dari tiap dusun, kami turun langsung ke tanah untuk melakukan pemanenan. Sebagai tanda terima kasih, kami dibekali beberapa ikat kangkung segar hasil jerih payah pagi itu. Kami memilih untuk menghantarkannya kembali kepada pemilik rumah yang telah berbaik hati menyediakan posko bagi kami. Saat rembang petang berganti malam, kami memenuhi undangan di salah satu rumah warga di Dusun Rawabayem. Di tengah pertemuan rutin bapak-bapak yang penuh asap kopi dan obrolan akrab, kami duduk untuk menyimak. Kami mencatat setiap aspirasi dan kegelisahan yang mereka sampaikan. Kelak, butir-butir pemikiran ini akan kami rangkum dan sampaikan kepada pemerintah desa dengan tutur bahasa yang baik, agar suara mereka menemukan jalannya. Malam itu terasa kian istimewa saat kami berkesempatan berbincang dengan WR 3. Ternyata, beliau juga seorang mantan Kormades di masa KKN nya dulu. Pertemuan dua generasi ini pun mengalir menjadi ajang tukar cerita dan pengalaman tentang seni mengabdi di tengah masyarakat. Hari ke-19 ini ditutup dengan perasaan yang kaya, tentang bagaimana menjaga raga tetap bugar, tangan yang tetap bekerja, dan telinga yang tetap setia mendengar.